Mekar yang Diam: Sebelum Panggung
Ada yang selalu saya pertanyakan setiap kali bekerja dengan seseorang yang belum pernah saya kenal sebelumnya, apa yang sebenarnya bisa kita hasilkan, bila waktu yang kita punya hanya sedikit dan jarak yang memisahkan kita begitu jauh?
Dua tahun terdengar cukup lama. Tapi bila dihitung ulang, saya dan Yuiko Masukawa hanya bertemu empat kali, masing-masing selama dua minggu. Total waktu yang kami habiskan bersama di satu ruang, di lantai yang sama, dengan tubuh yang saling melihat hanya sekitar dua bulan. Dari situlah lahir Mekar yang Diam, karya duet yang kami presentasikan di Dancehouse, Carlton, Melbourne, Maret 2026.
Solo, Desember 2024: Cemas!
Saya masih ingat siang itu di parkiran Pura Mangkunegaran. Panas matahari Solo yang sangat khas. Dari kejauhan, saya melihat perempuan dengan tinggi yang hampir sama dengan saya, berat badan yang juga hampir sama, tersenyum lebar dan melambai ke arah saya. Itulah Yuiko, penari dan koreografer asal Jepang yang sudah lama menetap di Melbourne, berlatar belakang balet dan kontemporer. Mitra kolaborasi saya dalam program Naarm/Solo Exchange Program, kerjasama antara Lucy Guerin Inc. dan EkosDance Company. Saya sangat gugup saat itu. Tapi senyumnya yang hangat dan antusiasme yang dia bawa membuat semua kecemasan itu cair lebih cepat dari yang saya kira.
Dua minggu pertama kami habiskan di RumaNari, studio EkosDance Company. Hasilnya? Kami banyak sekali berbicara. Hampir tidak bergerak sama sekali. Setiap sesi latihan yang dimulai dengan pemanasan tubuh berakhir menjadi percakapan panjang yang tidak menghasilkan satu pun frase gerak yang bisa kami simpan. Kami kebingungan, kami terlalu banyak punya ide, dan kami sama-sama gampang ragu dan gampang putus asa. Suatu hari Mas Eko Supriyanto hadir dan bertanya bagaimana perkembangan kami. Kami jujur jelaskan bahwa kami banyak bicara, banyak ide, tapi belum ada apa-apa. Jawabannya singkat "Just do it. Lakukan saja apa yang tubuh kalian ingin lakukan." Itu seperti tamparan kecil yang tepat sasaran.
Minggu berikutnya kami mulai bergerak. Kami melihat pantulan diri sendiri di kaca, tertarik pada bayangan yang terbentuk dengan bantuan cahaya lampu. Kami eksplorasi, kami saling mengajari, kami saling memberi contoh gerak dari latar belakang ketubuhan masing-masing. Dua minggu pertama itu tetap tidak menghasilkan susunan karya yang konkret, tapi saya percaya dari sanalah segalanya mulai tumbuh. Kami belajar memahami satu sama lain. Dan yang lebih penting, kami mulai memahami diri sendiri.
Melbourne, Maret 2025: Studio WXYZ dan Kata Nggandul
Pertemuan kedua berlangsung di Melbourne, setelah saya menyelesaikan proses Lapse, karya Mba Melati Suryodarmo dalam AsiaTopa. Saya datang ke Studio WXYZ di North Melbourne, dan semua rasa gugup itu kembali hadir.
Pagi pertama saya mengikuti morning class balet. Tubuh terasa kaku luar biasa, kehilangan keseimbangan, seakan lupa pernah menari. Di studio bersama Yui, kami kembali dalam posisi yang sama. Kami punya banyak referensi, banyak diskusi, banyak adu argumen yang kami jaga agar tidak menyinggung satu sama lain dan tetap ragu untuk mengambil keputusan. Saat itu saya melontarkan sebuah kata dalam bahasa Jawa kepada Yui, nggandul. Artinya kurang lebih menggantung, saling mengandalkan tapi juga saling ragu. Semua terasa ngambang. Semua terasa setengah-setengah. Tapi Yui melihat kata itu dari sudut yang berbeda. Baginya, nggandul adalah suspend, momen henti sesaat yang justru terasa magical. Dari sana muncullah ide menggunakan properti seperti potongan-potongan kertas panjang yang ditempel pada jari-jari tangan kami, membentuk perpanjangan jari yang aneh dan hidup ketika bergerak. Kami mulai mengeksplorasi itu.
Di sisi lain, saya mulai mencari pegangan untuk membantu saya dalam proses riset. Saya adalah orang yang butuh kejelasan ide sebelum bisa bergerak lebih jauh. Dari bentuk yang kami susun dengan kertas di jari-jari itu saya melihat sesuatu yang familiar, bayangan pohon beringin. Akar yang menjuntai, dahan yang melebar ke segala arah, berdiri kokoh di banyak tempat di Asia dan Australia sekaligus.
Pohon beringin bukan hanya simbol ekologis. Dalam tradisi Jawa tempat saya tumbuh, pohon beringin adalah pusat kehidupan dan di sanalah mata air terbaik berada. Di sanalah ruh-ruh penjaga tinggal dan disanalah nenek moyang kita menaruh hormat dengan sesaji dan doa. Bukan karena takut, tapi karena percaya bahwa alam dan manusia hidup berdampingan dan saling menjaga. Dari pemahaman itulah karya ini pelan-pelan menemukan rohnya. Dua ruh berbeda, tumbuh di ruang yang berbeda, namun saling mempengaruhi dan saling menopang seperti akar di bawah tanah yang bergabung tanpa pernah kita lihat.
Lucy Guerin hadir sesekali di sesi ini. Ia memang sedang disibukkan dengan banyak hal, tapi setiap kali ia datang melihat proses latihan kami, ada sesuatu yang berubah. Bukan karena ia memberi instruksi panjang. Justru sebaliknya, ia menangkap hal-hal kecil yang luput dari mata kami sendiri. Sebuah transisi yang terasa terburu-buru. Sebuah momen diam yang belum cukup dihuni. Pengamatannya yang tenang dan presisi mendorong kami untuk lebih serius dalam menyelaraskan rasa dan komposisi. Bukan agar kami menjadi sama, tapi agar kesan yang ingin kami hadirkan benar-benar sampai. Kehadiran Lucy, meskipun tidak selalu penuh, menjadi semacam penanda bagi kami bahwa karya ini layak untuk terus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Solo, Desember 2025: Menyusun Tubuh, Menyusun Rupa
Pertemuan ketiga kembali di Solo dan Jack Hancock hadir sebagai desainer kostum. Kunjungan pertamanya di Kota Solo dan dia membawa mata yang haus pada warna dan tekstur organik di sekitarnya. Kami juga mulai bekerja lebih intens dengan Rama Parwata, komposer musik yang pertanyaannya selalu tajam dan membantu kami menjernihkan visi karya. Dan Alexander Nguyen, lighting designer yang tekun yang dimana awalnya dia ingin membawa instalasi lampu ke panggung. Namun akhirnya memilih pendekatan yang lebih menahan diri, dan justru dengan cara itu memperkuat kehadiran kami. Dua minggu itu kami gunakan untuk melanjutkan apa yang sudah kami temukan di Melbourne, membenahi susunan karya, sekaligus menyiapkan materi dokumentasi dan publikasi untuk Dancehouse.
Hari yang paling saya tunggu adalah presentasi di hadapan Mas Eko. Kami mempersiapkan diri semaksimal mungkin, dengan segala ketakutan yang masih kami bawa. Apakah karya ini terlalu lambat? Apakah geraknya terlalu sederhana? Apakah orang-orang akan merasa bosan?
Setelah kami selesai, Mas Eko diam sejenak. Lalu dia menuliskan sesuatu, dan memberikannya kepada kami,
“Two women move like water given intention. Skirts opening and closing like a blooming flower learning how to breathe and it feels like watching two swans in conversation, not performing at each other but listening, answering, pausing, then speaking again through a tilt of the ribs and the soft sweep of fabric. At moments the duet turns elemental, like two mountains talking across a valley, trading the lives of wind, trees, and time… what hits strongest is their partnership's clarity where they connect without grabbing. Closeness without collapse”
Saya melihat Yui menangis pelan. Saya sendiri tidak bisa berkata-kata. Saya tidak pernah secara eksplisit bercerita kepada Mas Eko tentang pohon beringin, tentang ruh, tentang akar di bawah tanah tapi semua itu terjawab dalam cara dia melihat karya kami. Seolah tubuh dan ruang sudah berbicara sendiri, melampaui apa yang pernah kami ucapkan.
Melbourne, Februari–Maret 2026: Panggung Dancehouse
Pertemuan keempat dan terakhir. Saya kembali ke Melbourne, dijemput Estelle Conley, produser dari Lucy Guerin Inc., dan saya kembali menginap di Quest Apartment, Southbank. Kamar yang sama, lantai yang sama, nomor yang sama seperti tahun sebelumnya. Rasanya seperti pulang ke rumah yang bukan milik saya, tapi terasa seperti milik saya.
Di minggu pertama kami kembali ke Studio WXYZ, menyusun dan mengingat kembali apa yang sudah kami miliki. Minggu kedua, kami pindah ke Dancehouse dimana kami habiskan waktu untuk mengeset panggung, berlatih dengan kostum, musik, dan pencahayaan penuh. Di sini pula peran Shiv Geaney menjadi sangat terasa. Sebagai production manager sekaligus operator yang mengikuti proses dari dekat, Shiv adalah orang yang memastikan semua hal teknis berjalan pada tempatnya. Mulai dari set panggung hingga kebutuhan-kebutuhan kecil yang sering tidak terlihat tapi sangat terasa bila tidak ada. Tanpa Shiv, saya tidak bisa membayangkan bagaimana proses ini dan pementasannya bisa berjalan selancar yang sudah terjadi. Kostum rancangan Jack Hancock sangat indah, dimana potongan menyerupai kimono berwarna abu-abu dengan siluet belakang yang terstruktur dan lebar, membuka di bagian sambungan kainnya, memberikan volume yang besar pada tubuh kecil kami. Ujung jari kami yang menjuntai dan berwarna merah seperti tanda, seperti darah, seperti akar yang mencuat ke permukaan.
Karya dimulai dengan kami berdua berjalan beriringan, pelan-pelan, dalam cahaya yang membentuk lorong panjang. Musik Rama memberi ambiens yang kontemplatif dan spiritual, membawa penonton masuk ke dalam ruang antara. Saya dan Yui terpisah jarak dan duduk berjauhan setelah itu, di dua sisi yang berbeda, seolah kami tinggal di dua dunia. Setiap centi perpindahan tubuh saya perhatikan, saya ingin penonton menikmati proses perubahan itu, bukan hanya hasil akhirnya. Kami menyalakan dupa, dan kami memasang satu per satu perpanjangan jari-jari merah ke tangan kami. Perlahan, tekun, seperti doa yang tidak terburu-buru. Setelahnya Yui menabur bunga melintasi panggung membentuk dua garis yang saling bersinggungan seperti huruf X. Bagi saya, ritual itu bukan sekadar teatrikal. Dupa yang menyala adalah undangan masuk ke ranah yang lebih dalam. Bunga yang ditabur adalah penanda jalan bagi ruh-ruh yang sedang dalam perjalanan. Dan jari-jari merah panjang yang kami kenakan adalah bayangan pohon beringin itu, akar yang menggantung dan menghubungkan tanpa harus bersentuhan langsung. Bagian akhir karya ini paling sulit dijelaskan. Pencahayaan berubah menjadi merah. Musik mengeras, ada ritme yang tiba-tiba hadir bersama sentuhan bunyi tradisional Indonesia. Yui berputar di tengah panggung utama, dalam pencahayaan yang minim, siluetnya membentuk bayangan yang seperti lepas dari dirinya sendiri. Saya berada di platform kecil di belakang, bergerak dengan intensitas yang berbeda dari seluruh karya. Banyak yang bilang bagian itu seperti kerasukan. Bagi saya, itu adalah pertanyaan: apa yang terjadi bila kita terpisah? Apa yang hilang bila dua ruh itu berhenti tumbuh bersama?
Bagaimana Orang Lain Melihatnya
Ketika karya ini dipentaskan pada 11–14 Maret 2026, beberapa ulasan muncul dan membuat saya dan Yui kembali duduk diam cukup lama.
Andrew Fuhrmann dari The Age memberikan bintang empat. Ia menulis bahwa Mekar yang Diam memiliki hawa kekhidmatan yang tenang dimana gerak yang sabar, tidak terburu-buru, dibentuk dengan sungguh-sungguh. Ia menyebut karya ini sebagai studi tentang bagaimana berbagi ruang dan waktu sambil tetap membiarkan keterpisahan terasa nyata. Yang paling mengena bagi saya adalah pengamatannya bahwa karya ini bukan tambal-sulam dari berbagai pengaruh, melainkan sebuah sensibilitas bersama yang sudah ditemukan, sudah diendapkan, dan terasa koheren dari dalam.
Yianna Dorward dari The Belle Jar menulis bahwa bagian paling memikat dari karya ini justru adalah momen ritual, ketika kami tampak tidak sedang menciptakan citra, melainkan benar-benar mengerjakan sesuatu. Ia menangkap momen itu sebagai keadaan di mana gerak bukan lagi pernyataan, tapi pengetahuan yang hidup di dalam tubuh tanpa perlu dipikirkan. Sesuatu yang melampaui kehendak sadar. Saya senang sekali ada orang yang merasakan itu, karena memang seperti itulah yang kami rasakan dari dalam.
Dr. Priya Srinivasan dalam ulasannya, membingkai karya ini sebagai pertanyaan tentang apa artinya menjadi perempuan sekaligus yang sakral dan yang profan, bergerak melampaui biner menuju ruang ketiga. Ia melihat puncak karya kami sebagai momen kemunculan memori leluhur yang terpendam jauh di dalam tubuh, yang selama proses justru muncul tanpa kami rencanakan seperti, ritual teh nenek Yui, pengetahuan Jawa tentang ruh dan sesaji yang dibawakan. Ia menyebutnya sebagai unexpected emergence, sesuatu yang muncul bukan karena diprogram, tapi karena ruang untuk itu sudah cukup aman dan cukup dalam.
Semua itu membuat saya sadar, tubuh menyimpan apa yang pikiran kadang tidak tahu bagaimana mengartikulasikannya. Kami tidak pernah secara sengaja memasukkan memori leluhur ke dalam karya ini. Tapi ia hadir karena memang begitulah cara tradisi bekerja. Ia bukan sesuatu yang kita ingat, melainkan sesuatu yang kita bawa.
Apa yang Tersisa
Saya bukan orang yang mudah percaya bahwa dua bulan cukup untuk mengenal seseorang dengan sungguh-sungguh. Tapi proses bersama Yui mengajarkan saya bahwa kedalaman tidak selalu butuh durasi yang panjang. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk duduk dalam kebingungan, tidak terburu-buru keluar dari ketidakjelasan, dan percaya bahwa momen nggandul itu bukan kegagalan, melainkan tempat di mana sesuatu yang sesungguhnya sedang benih-benihnya tumbuh.
Judul Mekar yang Diam bukan hanya menggambarkan isi karya. Ia menggambarkan prosesnya. Tidak ada yang mekar dengan keras. Tidak ada yang mengumumkan dirinya tiba-tiba jadi. Semua terjadi perlahan, dalam diam, dalam keberadaan yang tidak selalu bisa dilihat oleh mata seperti akar di bawah tanah, seperti dua ruh yang hidup di dunia berbeda tapi tetap terhubung tanpa perlu saling merengkuh.
Terima kasih kepada Yuiko Masukawa yang mengubah kata nggandul menjadi sesuatu yang indah. Kepada Lucy Guerin, yang matanya yang tenang selalu menemukan apa yang belum selesai. Kepada Mas Eko Supriyanto, yang menuliskan apa yang kami belum bisa ucapkan. Kepada Rama Parwata, yang musiknya membawa penonton masuk ke ruang lain. Kepada Jack Hancock, yang kostumnya memberi kami tubuh baru di atas panggung. Kepada Alexander Nguyen, yang cahayanya tidak pernah mendahului kami. Kepada Estelle Conley, yang hadir dari awal hingga akhir. Kepada Shiv Geaney yang tanpa kehadirannya, semua yang berjalan mulus itu tidak akan pernah bisa terjadi. Dan terima kasih kepada Dancehouse dan semua orang di dalamnya, yang memberi kami bukan hanya panggung tapi juga ruang dan kehangatan untuk menyiapkan semuanya dengan tenang.
Dan kepada penonton Dancehouse yang bersabar, yang hadir, yang bersedia masuk ke dalam ruang diam bersama kami. Terima kasih sudah mau mekar pelan-pelan bersama kami malam itu.




