Journal

Catatan Empati - PSBK

Berbicara soal empati, terkadang muncul pertanyaan, apakah kebutuhan orang lain adalah tanggung jawab kita? Apakah kita bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain? Begitupun sebaliknya. Sedih ketika harus melihat orang tua berjuang menjajakan mainan anak, keliling kampung untuk menjual kebutuhan rumah tangga seperti panci, ember, sapu. Melihat pedagang koran yang mana entah berapa lembar sudah mereka jual hari itu. Membeli barang dagangan walau mungkin kita tidak membutuhkannya, tapi dengan tujuan untuk membantu kelancaran mereka mencari uang. Tak hanya di dunia nyata, terkadang sosial media juga mencuri perhatian kita atas segala berita yang ada. Apa, siapa, dimana, kapan, kenapa dan bagaimana hal itu dapat terjadi. Apa yang dibutuhkan? Dukungan secara kata-kata? Atau mendukung secara aksi dengan menyebar luaskan infomasi dan memberi materi? Apakah contoh diatas sudah memenuhi kriteria empati? Kembali lagi mungkin kita harus memahami apa itu empati dan untuk siapa empati itu ditujukan? Dengan menolong, apakah kita sudah dikatakan sebagi seorang yang empati? Masih banyak pertanyaan yang lain mengenai empati yang mana saya pun masih mempertanyakan pada diri sendiri.

Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (Yogyakarta) yang bekerjasama dengan The Paper Birds (Inggris) dan telah memilih saya menjadi salah satu seniman yang akan berkolaborasi dengan lima seniman lintas disiplin lain. Terimakasih telah memberikan saya kesempatan untuk mempelajari empati bersama narasumber profesional seperti Jemma McDonnell, Melati Suryodarmo, Aziz Faiz, Broto Wijayanto, Joned Suryatmoko, Charyna Ayu Rizkyanti, Enni-Kukka Toumala. Kebersamaan kami selama tiga minggu telah membuka lebar wawasan saya mengenai empati, dan apakah saya sudah berempati selama ini? Lalu, apa yang telah kami temukan dan kami buat sebagai kelompok seniman kolaborasi? Sudah berempatikah kami satu dengan yang lain?

Minggu pertama adalah minggu yang cukup melelahkan, banyak informasi yang didapat dari berbagai narasumber dengan latar belakang yang berbeda serta mulai membuka pikiran. Jemma McDonnell, seniman dari The Paper Birds menyambut kami dengan hangat. Dalam sesi tersebut, kami saling memperkenalkan diri dan Jemma mulai menanyakan sesuatu berkaitan dengan bagaimana cara pandang kami mengenai empati dalam praktik kesenian. Hal yang cukup berat dan mungkin jarang saya pikirkan, yaitu saat Jemma mengajak menuliskan surat yang ditujukan kepada diri sendiri. Kenapa kamu menjadi seniman? Apa tujuanmu membuat karya seni? Dua pertanyaan sederhana yang memaksa saya harus lebih terbuka dan jujur dengan diri sendiri. Perasaan haru mulai muncul, melihat langkah ini yang sudah cukup jauh berada di dunia kesenian, membuat saya bersyukur dengan apa yang telah Tuhan dan semesta berikan. Mungkin ada tujuan yang sudah direncanakan untuk hidup saya. Membuat karya seni itu tidak mudah, terkadang banyak aspek yang harus kita pertimbangkan, namun tujuan utama saya adalah memberikan ruang imajinasi pada penikmat seni untuk bebas menginterpretasikan apa yang telah dibuat. Sama sekali tidak ada tuntutan agar orang mengerti dan memahami apa yang saya pikirkan. Dengan banyaknya interpretasi dan imajinasi dari berbeda orang, saya pikir sudah cukup sukses tujuan dari pembuatan karya tersebut.

Melati Suryodarmo, sebagai seniman perupa dan koreografer, beliau memberikan banyak pandangan dan referensi dalam praktek kerja seninya. Latar belakang sejarah suatu negara adalah pijakan awal yang sangat penting sebelum kita membahas tentang segala sesuatu yang ada saat ini. Semua pasti ada alasannya, jangan sampai kita menghiraukan apa yang telah terjadi atau dianggap kuno menjadi sesuatu yang tidak penting. Mungkin saja definisi kuno belum paham dan bisa jadi ada sesuatu yang belum tuntas di dalamnya. Sejarah dekolonialisasi di Indonesia menjadi salah satu alasan munculnya pertanyaan, kenapa kekerasan di sini tidak ada habisnya? Apakah sesajen menjadi bentuk sebuah perlawanan? Kenapa banyak cerita sejarah di Indonesia tidak diarsipkan secara tertulis dengan baik? Kemudian muncul pertanyaan lain dalam ranah kesenian, bila teks dihilangkan, apa yang bisa kita gunakan untuk menyentuh realita orang lain dengan realita yang kita bawakan dalam bentuk karya seni? Pertanyanan-pertanyaan tersebut membuat saya sadar bahwa menanyakan segala sesuatu dari segala aspek, akan memperkaya pengetahuan serta referensi sebelum melangkah dan menentukan sesuatu. Pertanyaan maju-mundur, yang mana sebagai seorang seniman tidak boleh menyepelekan hal kecil, karena dengan hal kecil saja mungkin akan muncul pertanyaan lain, dan bagaimana saya mempertimbangkan sesuatu yang akan ditampilkan pada sebuah karya. Pertanyaan penutup, dimana posisi kita dalam mengolah empati yang berdampak bukan hanya untuk diri kita, namun juga untuk orang lain?

Aziz Faiz, sebagai seorang pengkaji empati di dunia sosial, beliau menyatakan sesuatu hal yang menarik, 'kesenian pasti berhubungan dengan empati, tidak dapat dipisahkan'. Sebelumnya, banyak istilah baku yang digunakan dalam mengelompokkan empati, namun apa yang saya tangkap adalah dilarang menempatkan kuasa dan ego, namun kasih sayang. Kasih sayang adalah salah satu cara untuk memahami orang lain, tidak mengunggulkan 'ke-akuan' dalam memutuskan sesuatu untuk orang lain. Adapun kebiasaan orang cenderung dalam mendefiniskan dan membangun kesan pada suatu objek atau subjek. Dapat diartikan dalam kerangka pikir orang tersebut masih ada 'ke-akuan' yang dipercayai, dan belum tentu benar. Sesi ini mengajarkan saya untuk lebih tenang, dan memperhatikan secara seksama bagaimana alur yang ada disekitar saya. Jangan sampai segala asumsi dan keputusan saya bersifat memaksa dan menyakiti orang lain. Memunculkan kesadaran dan kasih sayang mampu membawa kita dalam merasakan suatu energi lain, membawa kita pada tindakan yang tepat dan baik untuk segala makhluk di bumi.

Broto Wijayanto, seseorang yang sangat dekat dan memberikan banyak ruang berkesenian untuk teman-teman difabel, mengajarkan saya bahwa kekurangan bukanlah menjadi suatu penghalang, bisa jadi mereka lebih ahli daripada yang lain. Orang lain cenderung memaksa teman-teman difabel untuk mengerti dan memahami sesuatu yang menurut mereka 'wajar'. Orang berbicara mengeluarkan suara, mendengar untuk mendapatkan informasi, melihat untuk mengetahui situasi dan keadaan, berjalan dengan kaki dan memegang dengan tangan. Saya yakin orang-orang menginginkan sesuatu yang dilakukan sesuai kebenaran 'wajar' mereka. Tapi apakah 'wajar'-nya orang lain cocok dan sesuai untuk teman-teman difabel? Sesi ini memberi saya informasi baru, semua orang berhak mendapatkan informasi, dengan berbagai macam cara. Kamu memakai telinga untuk menyimak, kami menggunakan mata. Kamu menggunakan lidah untuk berbicara, kami menggunakan tangan. Setiap orang memiliki porsi masing-masing. Adapun kita harus bisa masuk untuk mengenal lebih dalam, mengenai apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka harapkan. Bahasa visual dan bahasa bunyi adalah hal terpenting bagi teman-teman difabel. Bahasa tubuh adalah kunci utama agar mereka mau terbuka dan percaya pada kita. Kunci lain, hati ketemu hati, manusia ketemu manusia. The power of difabel, begitulah caranya untuk memahami seni inklusif.

Joned Suryatmoko, berkecimpung di dunia teater, salah satu seniman yang sangat kritis dan suka untuk menanyakan banyak pertanyaan pada kami. Ada pertanyaan, kapan empati itu muncul? Berikan contoh! Jawaban kami sama, kami memberi dan membantu orang-orang yang kesusahan. Jawaban kami ternyata menjadi kesimpulan beliau bahwa kami memposisikan diri sebagai seorang yang paling beruntung dan punya kekuatan untuk membantu. Hal tersebut membalikkan pemikiran saya dan menyadarkan ada hal yang menyangkut tentang posisi dan kuasa. Terkadang memberi pada seseorang yang katanya 'kesusahan' pun menjadi boomerang untuk saya dan berpikir apakah saya sedang berada diatas? Apakah saya cukup merasa sok tahu untuk membantu orang ini? Ya, karena menurut saya kasihan. Ada banyak hal yang harus diperjelas sebelum melakukan sebuah aksi. Ada catatan, empati itu bahaya, karena seperti mendamaikan. Mendamaikan sesuatu yang mungkin saya tidak tahu keadaan sesungguhnya seperti apa. Konsekuansi lain, bisa dikatakan empati itu bermuka dua, adanya sistem posisi untuk melanggengkan kasus, tapi disisi lain empati muncul karena adanya kejujuran ingin membantu. Empati adalah jurus. Kapan kita harus menggunakannya, kepada siapa, dan di situasi seperti apa empati digunakan. Paham sebelum bertindak.

Charyna Ayu Rizkyanti, beliau adalah seorang pakar empati yang menitik fokuskan pada empati di dunia digital. Menyamarkan suatu kebohongan menjadi sebuah kebenaran, mengaduk-aduk emosi tanpa melihat sumber awalnya seperti apa, itulah dunia digital yang kita hadapi saat ini. Tidak peduli apakah itu benar atau salah, yang jelas apa yang kita lihat sudah pasti benar. Sependek itu manusia saat ini menyimpulkan sesuatu tanpa menghargai proses pencarian dan pengumpulan materi. Sebuah pertanyaan muncul, bagaimana manusia akan menghargai waktu di dunia yang sangat cepat saat ini? Bagaimana manusia akan menghargai orang lain di era digital? Saya pikir ini akan tetap menjadi pertanyaan pribadi yang cocok untuk dicari tahu seiring berjalannya waktu. Soal waktu, empati sudah ada sejak manusia lahir, selebihnya bagaimana manusia berusaha untuk mengasah perasaan tersebut. Definisi empati menurut beliau, kemampuan kita untuk merasakan sesuatu yang orang lain rasakan. Adanya kemampuan untuk menjadi orang tersebut, adanya getaran yang dikirim kepada kita sebagai manusia. Jujur sesi ini adalah yang paling relevan yang sering saya lakukan, entah untuk orang lain atau diri sendiri. Saya berusaha untuk melihat lagi apa yang saya butuhkan, batasan apa yang harus saya bangun agar semua seimbang. Antara diri sendiri, diri dengan sosial, diri dengan lingkungan, diri dengan Tuhan. Membawa saya untuk kembali melihat dan membenahi diri sendiri sebelum saya berusaha membantu orang lain dengan segala kesulitan mereka.

Enni-Kukka Tuomala, seorang seniman empati yang sebagai narasumber terakhir dari Inggris yang melengkapi dan memantapkan langkah kami. Beliau memberikan banyak workshop mengenai praktik kekaryaan empati yang biasa dilakukan. Penyampaian yang sangat ringan dan mudah untuk ditangkap membuat saya lebih paham bagaimana praktek empati yang harus dilakukan pada kerja kelompok kali ini. Beliau memberi wadah pada kami untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Apa yang seharusnya ada dan apa yang seharusnya tidak ada pada proses kerja kami. Mencoba memahami bagaimana proses kekaryaan kami adalah bagian dari praktek empati. Berbagi cerita, mendengar, memaparkan pendapat, serta belajar cara penyampaian yang tepat pada orang lain, adalah jalan baik untuk mencapai tujuan bersama. Menekan ego, hal sangat sulit untuk dilakukan, namun disini saya dapat menarik kesimpulan, tetap sadar bahwa komunikasi dua arah akan membangun suatu yang lebih bermakna, daripada kita memaksakan kehendak dan membentengi diri dari pendapat orang lain.

Sejak pertemuan awal saya bersama teman-teman seniman dengan latar belakang yang berbeda, agaknya membuat hati ini minder. Saya yakin teman-teman lain memiliki pengalaman dan pemikiran yang mumpuni untuk kerja kolaborasi. Dengan bekal yang saya bawa dan dengan tambahan materi yang telah didapat, dialog kami dalam mencari kata kunci pun mulai terjadi. Ada beberapa kata kunci yang menjadi perhatian kami yaitu, ketakutan, kesadaran, anonim, keaslian. Apa yang membuat kami takut yaitu pertanyaan untuk diri sendiri seperti, sudahkah kami melakukan empati, apakah yang kami lakukan itu benar? Dan banyak pertanyaan lain mengenai, bagaimana setelah ini kami bertindak berdasarkan empati yang sudah kami pahami sebagai seorang seniman. Mungkin dari sini kami memiliki kesadaran akan tanggung jawab yang lebih dalam membuat karya. Bagaimana lingkungan ini bergerak, dan dampak apa yang terjadi pada kami dan sekitar, menjadi pertimbangan kami dalam membentuk suatu gagasan. Hal yang paling menarik adalah bagaimana saya melihat teman-teman memaparkan opini mereka dengan memberi banyak contoh nyata yang dialami. Membuat saya mengasah kesadaran ini untuk mencari tahu, apakah hal tersebut juga terjadi di kehidupan saya? Adapun dua kata kunci yang kami kerucutkan untuk menjadi landasan utama dalam membuat karya, yaitu anonim dan keaslian. Dunia digital saat ini telah membawa orang berlomba-lomba untuk menjadi seorang anonim, tak terlihat, dan tidak diketahui siapa mereka sebenarnya. Hal buruk yang dihasilkan yakni banyak orang lepas tanggung jawab dalam berkomunikasi, kebebasan mereka dalam berkomentar dan menggunggah segala sesuatu tanpa memikirkan perasaan orang lain, atau baik burukkah keputusannya dalam melakukan aksi. Dimana perasaan mereka sebagai sesama manusia? Disisi lain, keaslian sebagai manusia diuji, bagaimana cara untuk memahami kebutuhan sendiri, dan apa yang orang lain butuhkan? Jujur, terbuka, memberi-menerima, sabar, ikuti alur adalah hal terpenting untuk memiliki moral sebagai makhluk sosial yang hidup dilingkungan yang sama. Menghargai setiap keputusan orang, dan menghargai diri sendiri, tidak memaksakan sesuatu yang mungkin memiliki konsekuensi buruk dalam jangka panjang.

Tubuh menjadi material utama dalam menyampaikan gagasan kami. Bahasa tubuh adalah bahasa yang paling mudah diterima oleh segala kalangan dan kategori manusia. Kami menggunakan interaksi sentuhan tubuh untuk menyalurkan energi kepada orang lain, yang kami rekam dan buat dalam bentuk video. Saya menganggap interaksi langsung menjadi jembatan utama selain pandangan mata dan ucapan yang orang berikan. Timbul banyak perasaan dan makna pada sentuhan, dimana hal itu tergantung dari perasaan apa yang ingin disampaikan kemudian tersalurkan oleh tegangan otot saat melakukan aksi. Tak lupa pengalaman atau latar belakang orang yang menerima menjadi pertimbangan dalam menyimpulkan apa yang akan mereka tangkap. Tidak ada salahnya, semua terjadi karena komunikasi dua arah. Saling menghargai, saya belajar bagaimana saling menghargai pendapat teman-teman dan percaya masing-masing memiliki tujuan yang baik dalam membuat karya bersama. Terciptalah karya kolaborasi dengan porsi adil untuk setiap idealisme kami. Pertimbangan dalam menampilkan video extreme close up interaksi sentuhan tubuh, tembakan proyektor pada dinding, handphone sebagai topeng penutup, kostum warna-warni sehari-hari, musik keseharian yang dipadukan dengan suling, vokabular gerak yang ditampilkan diatas panggung, adalah keputusan kami untuk menjembatani gagasan yang telah kami bangun diawal. Kami berusaha bagaimana material yang kami bawakan disini mampu menyentuh realita penonton sesuai dengan realita yang kami wujudkan dalam sebuah karya.

Tak hanya memikirkan apa yang kami lakukan, tapi kami pun berkesempatan untuk menyaksikan karya dari teman-teman seniman Inggris yang memiliki kegiatan residensi sama seperti kami. Bagaimana imajinasi dan gagasan mereka mengenai empati berdasarkan pengalamannya hidup di lingkungan yang jauh berbeda dari Indonesia. Sebagai seorang seniman tidak lupa saya harus menempatkan diri menjadi gelas kosong. Menerima dan mencoba untuk mencari apa yang saya rasakan, berusaha memasuki wadah yang telah mereka buat dan menikmati hasilnya. Dengan kemasan yang berbeda, saya mendapatkan sesuatu hal yang sama. Diri ini sebagai rumah penuh polemik kehidupan yang harus disadari keputusan dan jalan yang telah kita pilih. Menganggap segala sesuatu yang telah terjadi adalah hasil dimana kita menjadi seorang kita saat ini. Peduli dan menghargai diri sendiri, melihat sudut pandang lain bukanlah menjadi sesuatu yang salah atau ancaman, namun sebagai sebuah konsekuensi yang bisa menambah pengetahuan kita untuk memutuskan dan melangkah dalam rangka pengembangan diri dan lingkungan sekitar. Kita hidup sebagai makhluk sosial yang saling bersinggungan dan berbagi ruang secara adil. Setiap subyek dan objek berhak menempati segala sudut ruangan yang tersedia di bumi.